Peran Mikroorganisme Saccharomyces cerevisiae dalam fermentasi tape singkong
Fermentasi bahan pangan adalah sebagai hasil kegiatan
beberapa jenis mikroorganisme baik bakteri, khamir, dan kapang. Mikroorganisme
yang memfermentasi bahan pangan dapat menghasilkan perubahan yang menguntungkan
(produk-produk fermentasi yang diinginkan) dan perubahan yang merugikan
(kerusakan bahan pangan). Dari mikroorganisme yang memfermentasi pada bahan
pangan, yang paling penting adalah bakteri pembentuk asam laktat, asam asetat,
dan beberapa jenis khamir penghasil alkohol. Salah satu jenis bakteri yang
digunakan dalam fermentasi adalah
Saccharomyces
cerevisiae.
Saccharomyces berasal
dari bahasa Latin Yunani yang berarti “gula jamur” sedangkan cerevisiae berasal
dari bahasa Latin yang berarti bir (Sukoco, 2010.). Saccharomyces cerevisiae
merupakan jenis khamir yang mempunyai sel tunggal. Sel khamir terdiri dari
kapsul, dinding sel, membran sitoplasma, nucleus, vakuola, globula lipid dan
mitokondria. Khamir ini berbentuk oval (bulat telur) dengan ukuran sekitar
1-5μm atau 20-25μm dengan lebar sekitar 1-10μm. Koloninya berbentuk rata,
lembab, mengkilap dan halus (Agustining, 2012). Sel Saccharomyces cerevisiae
dapat tumbuh pada medium yang mengandung air gula dengan konsentrasi tinggi.
Saccharomyces cerevisiae merupakan golongan khamir yang mampu memanfaatkan
senyawa gula yang dihasilakan oleh mikroorganisme selulotik untuk
pertumbuhannya. Spesies ini dapat memfermentasikan berbagai karbohidrat dan
menghasilkan enzim invertase yang bisa memecah sukrosa menjadi glukosa dan
frukosa serta dapat mengubah glukosa menjadi alcohol dan karbondioksida
sehingga banyak digunakan dalam industri pembuatan bir, roti, tape ataupun
anggur (Agustining, 2012).
Tape adalah makanan tradisional yang mudah dalam
pengolahannya dan tidak membutuhkan biaya mahal. Tape merupakan makanan khas
olahan dari aneka bahan pangan yang mengandung karbohidrat. Proses pembuatan
tape melalui proses fermentasi diperlukan ragi tape yang akan mengubah
karbohidrat dalam bahan menjadi gula dan alkohol (Rukmana dan Yuniarsih, 2001).
Dalam pembuatan tape terjadi proses
fermentasi yaitu proses perombakan karbohidrat (fruktosa dan glukosa) menjadi
alkohol dan karbondioksida yang dilakukan oleh khamir Saccharomyces cerevisiae.
Proses fermentasi tape dibagi menjadi dua tahap yaitu perubahan pati menjadi
gula oleh kerja kapang dan perubahan gula menjadi alkohol oleh kerja khamir
(Raharjanti, 2006). Khamir Saccharomyces cerevisiae menggunakan jalur EMP dalam
memfermentasi glukosa menjadi etanol pada kondidi netral atau sedikit asam dan
anaerob. Jika pada bahan pangan yang digunakan dalam proses fermentasi mengandung
natrium sulfit, maka akan menghasilkan gliserol sebagai produk yang dominan.
Tetapi jika pangan yang digunakan dalam kondisi alkali, maka glukosa akan
diubah menjadi gliserol, etanol, asetat, dan CO2 (Purwoko. 2009).
Menurut Apriyani, dkk (2017), pengunaan jumlah ragi
menjadi faktor utama yang harus diperhatikan karena jika jumlah ragi yang
digunakan terlalu sedikit maka proses menjadi tape akan berjalan lama, akan
tetapi jika jumlah ragi yang digunakan terlalu banyak akan menghambat
mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi dan mikroorganisme
pembusuk akan tumbuh sehingga tape menjadi busuk. Semakin tinggi jumlah tape
yang digunakan maka semakin banyak khamir (Saccharomyces cerevisiae)
yang terbentuk. Kemudian Abdillah, dkk (2017), semakin tinggi pemberian dosis
ragi maka cenderung menurunkan kandungan gula reduksi yang dihasilkan baik pada
perlakuan tanpa gula atau dengan ditambah gula. Jumlah mikroba perombak yang
terdapat di dalam tape lebih banyak, terutama enzim invertase yang dihasilkan
semakin banyak, sehingga semakin banyak glukosa yang dirombak menjadi etanol
dan akibatnya kandungan gula reduksi menurun.
Tape singkong merupakan salah satu bentuk makanan
olahan dengan proses fermentasi. Prinsip dasar proses fermentasi adalah
degradasi komponen pati menjadi dekstrin dan glukosa, selanjutnya glukosa
diubah menjadi alkohol atau asam sehingga hasil dari proses fermentasi terasa
sedikit asam atau sedikit manis dan asam alkoholik. Tape singkong biasanya
dibiarkan dalam bentuk warna putih. Pemanfaatan singkong menjadi tape kentang
tergolong banyak, akan tetapi dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat
indonesia dalam mengolah tape sehingga menghasilkan tape yang kurang bagus.
Selain itu singkong merupakan bahan pangan yang cukup melimpah sehingga bisa
dimanfaatkan menjadi berbagai macam olahan yang bernilai jual tinggi sehingga
akan meningkatkan perekonomian masyarakat.
link you tube: https://youtu.be/Myx0ue_Oq5s
Komentar
Posting Komentar